Minggu, 17 Mei 2015

Upaya Restorasi Dan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove

Makalah Syarat Pengganti UTS Matakuliah MSP

Identifikasi Kerusakan Dan Upaya Restorasi Dan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove 



OLEH :


DINARTA PARDEDE                    120302035
















MATAKULIAH MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Di dalam wilayah laut dan pesisir terkandung sejumlah potensi sumberdaya yang besar dan beragam. Salah satu sumberdaya tersebut dapat diperbarui (renewable resources), seperti ikan, udang, moluska, karang mutiara, kepiting, rumput laut, hutan mangrove  dan  hewan  karang  yang keberadaan dan kelestarianya tergantung dari pelestarian habitatnya. Selain hal tersebut juga berguna dalam jasa-jasa lingkungan (environmental service), seperti tempat-tempat (habitat) yang indah dan menyejukkan untuk potensi peristiwa dan rekreasi, media transportasi. Dari semua itu, maka potensi kelautan dan pesisir mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bagi semua elemen masyarakat, khususnya masyarakat pesisir (Haryanto, 2008).
Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif. Keberadaannya mampu memperkaya keanekaragaman hayati, menghasilkan berbagai produk hutan komersial, melindungi garis pantai, serta mampu mendukung produksi perikanan di kawasan pesisir. Mangrove memiliki sistem adaptasi yang unik mengingat kondisi lingkungannya yang ekstrim, seperti kadar garam yang tinggi serta tanah yang kurang stabil dan tergenang. Mangrove di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, luas mangrove di Indonesia adalah 3.112.989 m 2 atau 22,6% dari luas mangrove yang ada di dunia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, faktor antropogenik telah memberikan pengaruh pada ekosistem mangrove ini. Sekitar 45% mangrove di Indonesia telah mengalami degradasi cukup parah karena aktivitas manusia. Jumlah kerusakan tersebut diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan pemukiman di kawasan pesisir (Auliyani., dkk. 2013).
            Vegetasi mangrove terdiri dari beberapa jenis antara lain Rhizophora apiculata, R. mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, B. parfivlora, B. sexangula, Avicennia sp, Sonneratia spp, Xylacarpus granatum, dan Ceriops tagal. Adaptasi pohon-pohon mangrove terhadap keadaan tanah berlumpur dan kekurangan oksigen dalam tanah adalah dengan membentuk system perakaran yang khas. Vegetasi mangrove mempunyai struktur seragam yang tidak mengenal lapisan tajuk. Ekosistem hutan mangrove memiliki beberapa sifat kekhususan dipandang dari kepentingan sumberdaya alam, yakni letak hutan mangrove terbatas pada tempat tertentu, peranan ekologis ekosistem hutan mangrove bersifat khas, berbeda dengan peran ekosistem hutan lainnya, dan hutan mangrove memiliki potensi hasil yang bernilai ekonomis tinggi, serta hutan mangrove sebagai sumber daya alam yang dapat dipulihkan pendayagunaannya memerlukan pengelolaan yang tepat, sejauh mungkin  dapat  mencegah  pencemaran  lingkungan  hidup  dan  menjamin kelestariannya untuk keperluan masa kini dan akan datang (Basyuni, 2002).
            Pertambahan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan pesisir menyebabkan tekanan terhadap ekosistem mangrove yang ada. Sebagaimana yang terjadi di pesisir pantai, jumlah mangrove yang ada mengalami penurunan yang drastis seiring dengan tingginya aktivitas ekonomi di kawasan ini. Beberapa faktor penyumbang terbesar kerusakan ekosistem mangrove di pesisir yaitu : pertambakan, penebangan mangrove, reklamasi dan sedimentasi, serta pencemaran lingkungan. Penurunan jumlah mangrove yang terjadi semakin memperparah kondisi pesisir yang merupakan daerah abrasi. Upaya penanaman kembali mulai dilakukan untuk memulihkan keseimbangan lingkungan di kawasan pesisir. Program rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan akan menunjukkan hasil yang signifikan. Keberhasilan rehabilitasi tersebut akan memberikan pengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir yang tinggal di sekitarnya (Auliyani., dkk. 2013).
            Hutan mangrove memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana dalam mempertahankan, melestarikan dan pengelolaannya. Kondisi hutan mangrove pada umumnya memiliki tekanan berat sebagai akibat dari tekanan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Selain dirambah dan dialihfungsikan, kawasan mangrove dibeberapa daerah kini marak terjadi kegiatan restorasi dan rehabilitasi. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memulihkan kondisi ekosistem mangrove yang telah rusak agar ekosistem mangrove dapat menjalankan kembali fungsinya dengan baik. Upaya rehabilitasi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang berhubungan dengan kawasan mangrove (Novianty., dkk. 2004).
Mangrove tumbuh di berbagai kondisi hidrologi dan iklim sehingga menciptakan hamparan yang luas dari berbagai macam komunitas bakau. Pola klasik mangrove telah meluas menjadi sedikitnya empat variasi yang semuanya termasuk suatu kesatuan yang didominasi oleh spesies seperti “smooth cordgrass” ( Spartina alterniflora ) atau saltwort ( Batis maritima ). Peran smooth cordgrass yang berperan sebagai “spesies perintis” dimana pada mulanya tumbuh pada lahan gundul dan selanjutnya mempermudah pertumbuhan mangrove dikemudian hari sampai menjadi spesies yang dominan. Bahkan setelah mangrove tumbuh dominan, beberapa spesies asli yang tumbuh di paya pasang surut ini kadang masih tersisa. Pola ini diperkenalkan sebagai ciri khas habitat mangrove, dimana komponen-komponen tumbuhan perintis ini seringkali ada (Roy., dkk, 2007).
Sangat mungkin melaksanakan restorai fungsi mangrove, dataran garam, atau sistem lainnya meskipun parameter seperti jenis dan kondisi tanah sudah berubah dan flora dan faunanya juga telah berganti. Namun jika tujuan dari restorasi adalah untuk mengembalikan suatu wilayah ke kondisi asli, maka kemungkinan tingkat kegagalan akan lebih tinggi. Restorasi terhadap ciri-ciri ekosistem tertentu dan tiruan atas fungsi alaminyalah yang lebih memungkingkan untuk sukses daripada restorasi ke kondisi aslinya. Kenyataan ini harus dipertimbangkan selama perencanaan rehabilitasi berlangsung                        (Novianty., dkk. 2004).
Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah yang berjudul “Restorasi dan Rehabilitasi Hutan Mangrove Pelestarian Ekosistem Pesisir Pantai” adalah:
1.      Untuk mengetahui tujuan dan manfaat upaya restorasi dan rehabilitasi pada hutan mangrove
2.      Untuk mengetahui penanganan pada ekosistem mangrove yang telah rusak
3.      Sebagai salah satu syarat pengganti Ujian Tengah Semester Matakuliah Manajemen Sumberdaya Perairan.


PEMBAHASAN
Ekosistem Mangrove
            Menurut Surat Keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian No. 60/Kpts/DJ/I/1978 tentang silvikultur hutan payau, hutan mangrove adalah tipe hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Ciri-ciri hutan mangrove adalah sebagai berikut : tidak dipengaruhi iklim, terpengaruh pasang surut, tanah tergenang air laut atau berpasir dan tanah liat, tanah rendah pantai, hutan tidak mempunyai stratum tajuk, tinggi mencapai 30 meter. Jenis tumbuhan mulai dari laut ke darat adalah Rhizophora, Avicennia, Soneratia, Xylocarpus, Lumnitzera, Bruguiera dan tumbuh-tumbuhan bawah yang hidup diantaranya Acrostichum aureum, Achanthus illicifolius, dan Archanthus ebracteatus (Basyuni, 2002).
            Tempat ideal bagi pertumbuhan hutan mangrove adalah di sekitar pantai, delta, muara sungai yang arus sungainya banyak mengandung pasir dan lumpur serta umunya pada pantai landai yang terhindar dari ombak besar. Vegetasi mangrove mempunyai zonasi yang khas, dicirikan oleh adanya perbedaan jenis yang ersusun menurut urutan tetentu walaupun dengan batas yang kurang jelas. Secara ekologis zonasi jenis di hutan mangrove dari arah laut ke darat berturut-turut adalah Sonneratia spp, Rhizophora spp, Bruguiera spp, Ceriops spp, Lumnitzera spp dan Xylocarpus spp. Dari seluruh jenis ini, nilai ekonomi kayu Rhizophora spp dan Bruguiera spp paling tinggi. Hutan mangrove bagi kebanyakan pantai pesisir merupakan suatu daerah pinggiran yang berguna dan produktif, dan juga melindungi pesisir dari ombak dan perembesan air asin, dan selanjutnya mempunyai fungsi dan potensi yang secara garis besarnya dapat dibagi tiga aspek : (1) aspek fisik, (2) aspek biologi, dan (3) aspek ekonomis (Roy., dkk, 2007).
            Ekosistem mangrove merupakan tempat di mana air pasang dan arus pantai membawa perbedaan terhadap hutan dan di mana tumbuh-tumbuhan beradaptasi terhadap perubahan kimiawi, fisika dan karakteristik biologis lingkungannya. Batasan-batasan dari ekosistem daerah pesisir ini dapat disesuaiakan definisinya terhadap yang berhubungan dengan bumi dan ekosistem lautan yang membatasinya. Dalam tahun terbaru ada studi-studi khusus mengenai fauna, flora, ekologi, hidrologi fisiologi dan produktivitas dari banyak perbedaan ekosistem-ekosistem mangrove, kebanyakan adalah kondisi dalam keadaan asli. Sering kali kita menghadapi kondisi wilayah pesisir dan laut yang sudah tidak mampu melangsungkan fungsi ekologisnya atau sudah tidak utuh secara ekologis. Dalam perencanaan kawasan konservasi, kita harus dapat menilai dan mengevaluasi keberadaan sasaran konservasi di wilayah perencanaan. Seperti yang terjadi di wilayah-wilayah lain, di banyak wilayah pesisir di Indonesia, kondisinya telah terfragmentasi sehingga fungsionalitas ekosistem telah berada di bawah viabilitas, atau kelayakan. Berbagai bentuk gangguan yang merupakan (Gunawan, 2004).
Restorasi dan Rehabilitasi
            Pengertian ekologi restorasi adalah proses mengubah dengan sengaja keadaaan lingkungan suatu lokasi guna menetapkan suatu ekosistem yang bersifat tertentu, asli, dan bersejarah. Tujauannya untuk mengembalikan struktur, fungsi, kenekragaman dan dinamika suatu ekosistem yang dituju. Tujuan utama restorasi mangrove ada dua, yaitu : merestorasi fungsi ekologi hutan mangrove yang rusak (degraded) dan mendapatkan produk hutan yang mempunyai nilai komersial. Dalam konteks ini nilai komersial berarti produk hutan yang dibutuhkan oleh penduduk sekitar sebagai sumber energi dan perumahan selain untuk industri. Dua tujuan ini menentukan spesies mangrove yang akan ditanam, untuk tujuan restorasi ekologi semua spesies mangrove dapat dimanfaatkan/ditanam. Restorasi dilakukan hingga mencapai struktur dan komposisi spesies semula, melalui suatu program reintroduksi yang aktif, terutama dengan cara menanam dan membenihkan spesies tumbuhan semula (Basyuni, 2002).
            Restorasi merupakan upaya memulihkan kawasan hutan yang mengalami
kerusakan (degraded) atau terganggu (disturbed) akibat aktivitas manusia atau gangguan alam. Dengan upaya restorasi, kemungkinan pulihnya proses ekologi akan kembali, serta dengan upaya ini, ketahanan yang menjadi syarat berlangsungnya pemulihan sistem dapat tercapai. Ekosistem yang membutuhkan restorasi umumnya adalah ekosistem yang telah mengalami perubahan atau kerusakan akibat aktivitas-aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak. Dalam beberapa kejadian, dampak terhadap kerusakan ekosistem diperparah dengan terjadinya bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir, badai atau letusan gunung berapi yang mengakibatkan ekosistem tidak dapat lagi dipulihkan seperti sediakala. Program restorasi berupaya memulihkan kembali ekosistem sebagaimana mulanya. Oleh karena itu, mengetahui keadaan awal suatu ekosistem sangatlah diperlukan sebagai dasar perencanaa program restorasi                      (Septyohadi, 2004)
            Menurut Hartono (2001), ciri-ciri ekosistem terestorasi adalah:
1.      Ekositem yang telah pulih berisi kumpulan karakteristik dari spesies-spesies yang terdapat dalam ekosistem dan menjadi acuan bagi struktur masyarakat
2.      Ekosistem yang telah pulih terdiri dari spesies endemik utama
3.      Semua kelompok fungsional yang diperlukan untuk pengembangan lanjutan dan stabilitas ekosistem dipulihkan haruslah terwakili, jika tidak, kelompok yang hilang berpotensi untuk dikuasai secara alami.
4.      Lingkungann fisik dari ekosistem dipulihkan mampu mempertahankan populasi serta mereproduksi spesie-spesies yan diperlukan untuk keberlanjutan atau pengembanhan sesuai keinginan
5.      Ekosistem yang dipulihkan haruslah dapat berfungsi normal untuk tahap ekologi pembangunan.
            Tujuan utama restorasi mangrove adalah mengelola struktur, fungsi, dan proses-proses ekologi pada ekosistem  tersebut,  serta  mencegahnya  dari kepunahan, fragmentasi atau degradasi lebih lanjut. Pada kondisi ini, homeostasis ekosistem secara permanen terhenti, sehingga menghambat proses sukses sekunder secara normal untuk menyembuhkan area yang rusak.  Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya landskap, mempertahankan keberlanjutan produksi
sumberdaya alam (khususnya perikanan dan kayu), melindungi kawasan pantai, serta fungsi sosial. Tujuan restorasi perlu ditetapkan berdasarkan masukan dari para pihak dan merupakan konsensus bersama, sehingga mendapat dukungan secara luas, tanpa dukungan para pihak se tempat keberhasilan restorasi dalam jangka panjang sangat kecil. Keuntungan  restorasi  komunitas  mangrove meliputi: konservasi dan pengembalian spesies yang pernah ada, spesies yang memiliki daerah jelajah luas, dan burung-burung migran; mendaur-ulang nutrien dan menjaga keseimbangan nutrisi pada muara sungai; melindungi jaring-jaring makanan pada hutan mangrove, muara, dan laut; menjaga habitat fisik dan tempat pembesaran anakan berbagai spesies laut komersial; melindungi lahan dari badai, menjaga garis pantai, dan mengendapkan lumpur; meningkatkan kualitas dan kejernihan air dengan menyaring dan menjebak sampah dan sedimen yang dibawa air permukaan dari hulu sungai (Setyawan., dkk. 2004).
            Rehabilitasi memiliki kesamaan mendasar dengan restorasi dalam hal sejarah ekosistem atau sebelum keberadaan ekosistem sebagai model (acuan). Namu kedua hal ini berbeda dalam hal tujuan dan strateginya. Rehabilitasi menekankan pada perbaikan proses ekosistem, produktivitas dan jasa, sedangkan tujuan restorasi juga mencakup pembentukan kembali integritas biotik yang sudah ada dalam hal komposisi jenis dan struktur komunitas. Meskipun demikian restorasi mencakup sebagian besar kegiatan yang sebelumnya diidentifikasi sebagai rehabilitasi.  Rehabilitasi merupakan suatu strategi manajemen untuk mencegah degradasi suatu wilayah dan menjadikannya bermanfaat                (Septyohadi, 2004)
            Rehabilitasi dapat dilakukan ketika suatu sistem telah berubah dalam tingkat tertentu sehingga tidak dapat lagi memperbaiki atau memperbaharui diri secara alami. Dalam kondisi seperti ini, ekosistem homeostasis telah berhenti secara permanen dan proses normal untuk suksesi tahap kedua atau perbaikan secara alami dari kerusakan terhambat oleh berbagai sebab. Konsep ini belum pernah dianalisis atau didiskusikan secara mendetail pada habitat mangrove.  Sehingga manager restorasi seringkali ditekankan untuk melakukan penanaman mangrove sebagai pilihan pertama restorasi. Meskipun pendekatan terbaik restorasi adalah dengan mengetahui penyebab punahnya mangrove, tangani penyebabnya dan kemudian bekerja dengan proses perbaikan alami untuk membangun kembali habitat mangrove. Bibit mangrove hanya ditanam jika mekanisme alami tidak memungkinkan dan hanya setelah dilakukan pembenahan hidrologi (Setyawan., dkk. 2004).
Permasalahan pada Ekositem Mangrove
            Permasalahan yang terjadi pada ekosistem mangrove adalah kerusakan mangrove akibat ulah atau aktivitas manusia dan alam. Faktor manusia merupakan faktor paling dominan penyebab keruusakan mangrove yaitu dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan, penebangan pohon mangrove secara sembarangan, sedangkan faktor alam disebabkan banjir, tsunami, badai, abrasi dan hama tanaman.
            Bersamaan dengan terjadinya kerusakan pada sebagian besar hutan mangrove di Indonesia yang diawali dengan adanya degradasi luasan hutan, degradasi jenis, konversi hutan mangrove, eksploitasi dan pemanfaatan hutan mangrove yang tidak sesuai dengan fungsi dan tujuannya serta kerusakan kondisi biofisik ekosistem mangrove dan ekosistem sekitranya. Penurunan kualitas dan kuantitas hutan mangrove mengakibatkan menurunnya kualitas biofisik ekosistem hutan mangrove dan lingkungan sekitarnya, seperti abrasi pantai, hilangnya habitat burung, banjir dan menurunnya produktivitas perairan. Sehingga ekosistem mangrove telah berubah ke tingkat tertentu sehingga tidak bisa lagi diperbaiki atau memperbaharui diri sendiri.
Penanganan Kerusakan Ekosistem Mangrove
            Penanganan yang dapat dilakukan dalam mengatasi kerusakan mangrove adalah dengan cara mengadakan upaya restorasi dan rehabilitasi          
            Menurut Setyawan, dkk (2004), terdapat lima langkah penting bagi keberhasilan restorasi mangrove yaitu:
1.       Pemahaman autekologi setiap spesies mangrove, meliputi pola reproduksi, distribusi propagul, dan pemantapan seedling.
2.       Pemahaman pola hidrologi yang mempengaruhi distribusi, pemantapan, dan pertumbuhan spesies mangrove yang diinginkan.
3.       Pemahaman perubahan lingkungan yang dapat mencegah suksesi sekunder secara alami.
4.       Restorasi sifat hidrologi, dan bila memungkinkan penggunaan propagul alami.
5.       Penanaman dilakukan apabila jumlah rekruitmen alami tidak mencukupi untuk penyembuhan.
            Faktor  penting  lainnya  yang  menentukan keberhasilan  restorasi  adalah  tingkat kerjasama dari masyarakat pesisir dan para pemimpin lokal. Tekanan populasi lokal akan mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem mangrove di sekitarnya. Pendidikan lingkungan dapat mendorong keterlibatan aktif dan keikutsertaan publik yang lebih besar. Keduanya merupakan isu penting dalam manajemen dan konservasi mangrove. Keputusan manajemen menyertakan masukan lokal akan lebih berhasil dan mendapatkan dukungan politis lebih besar. Dua pendekatan telah digunakan di restorasi area mangrove yang terdegradasi, yaitu regenerasi buatan dan alami (Septyohadi, 2004)
            Dengan upaya restorasi, kemungkinan pulihnya proses ekologi akan kembali, serta dengan upaya ini, ketahanan yang menjadi syarat berlangsungnya pemulihan sistem ekosistem hutan mangrove dapat tercapai. Perlu dilakukan pemulihan kembali hutan mangrove yang telah rusak agar dapat kembali memberikan fungsinya bagi kesejahteraan manusia khususnya masyarakat sekitar hutan mangrove serta mendukung dalam kegiatan pembangunan wilayah pesisir. Penggalakan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang arti penting keberadaan mangrove dalam kehidupan dan perekonomian masyarakat. Pengikutsertaan masyarakat dalam upaya pemulihan pantai menjadi kunci keberhasilan pelestarian ekosistem mangrove (Hartono, 2001).
            Menurut Gunawan (2004) restorasi atau rehabilitasi bisa disarankan karena suatu ekosistem mangrove telah berubah ke tingkat tertentu sehingga tidak bisa lagi diperbaiki atau memperbaharui diri sendiri. Dalam kondisi seperti ini, homeostatis ekosistem telah berhenti secara permanen dan proses normal untuk regenerasi normal atau perbaikan alami terhalangi oleh berbagai sebab. Maka rehabilitasi yang bertujuan konservasi memastikan kembalinya seluruh proses ekologis dan keragaman genetik dan menentukan biomassa serta produksi mangrove. Proses restorasi dan rehabilitasi terhadap ekosistem mangrove dapat dilakukan dengan cara berikut:
1.      Pemilihan jenis mangrove untuk restorasi
Untuk pemilihan spesies mangrove untuk tujuan restorasi, urutan dan zonasi spesies mangrove berhubungan dengan lapisan bawah dan salinitas yang diamati. Keseluruhan ditemukan berkolerasi dengan data kandungan karbon untuk variasi spesies mangrove. Berdasarkan pengamatan- pengamatan, kesesuaian spesies dipilih untuk restorasi mangrove. Mengetahui kondisi distribusi hutan alam dan memperhatikan kondisi tempat tumbuhnya, misalnya tepi sungai dan tinggi permukaan tanah dari permukaan laut dan mengobservasi kondisi di sepanjang tepi batas penyebarannya.
Mengetahui ketersediaan benih yang diperlukan, beberapa jenis tumbuhan mangrove seperti pada jenis Avicennia dan Rhizopora memiliki adaptasi anatomi yang dikenal dengan istilah secreter dan nonsecreter, sistem perakaran yang khas serta struktur posisi daun yang khas dalam pengaruhnya terhadap radiasi sinar matahari dan suhu yang tinggi. Tingkat salinitas yang berbeda berpengaruh terhadap respon pertumbuhan tinggi maupun pertambuhan jumlah daun anakan Rhizopora mucronata dan Avicennia marina pada umumnya diketahui bahwa respon pertumbuhan tinggi yang baik diperoleh pada salinitas yang rendah dan pertambahan jumlah daun untuk jenis Avicenia marina lebih baik pada tingkat salinitas yang lebih luas.
2.      Teknik pembibitan benih untuk program restorasi
Bibit mangrove yang berkualitas merupakan salah satu faktor utama yang mampu menunjang keberhasilan suatu kegiatan rehabilitasi. Penggunaan bibit berkualitas tinggi dan siap tanam berpeluang tinggi terhadap pertumbuhannya di lapangan serta sebaliknya. Penyiapan bibit mangrove sebaiknya menggunakan buah yang telah masak.
Suksesi alami akan bergantung pada tersedianya benih dari induk. Penyebaran biji spesies pionir meliputi kawasan yang luas, dengan bantuan angin, air atau satwa sebagai agen penyebar. Mereka dengan cepat mengkoloni tanah terbuka. Yang lebih sulit adalah menggalakan regenerasi spesies klimaks. Mungkin memang ada regenerasi dari biji yang tersebar secara alami dari blok hutan berdekatan, tetapi sering diperlukan perbanyakan secara buatan dan penyemaian tanaman.
3.      Persepsi Masyarakat Sekitar Hutan Mangrove dan Kegiatan Restorasi
Persepsi di kalangan masyarakat umum dan sebagian besar pegawai pemerintah yang menganggap bawha hutan mangrove merupakan sumber daya yang kurang berguna yang hanya cocok sebagai tempat pembuangan sampah atau dikonversi untuk keperluan lain, kegiatan pembukaan tambak-tambak serta ketidaktahuan akan nilai alamiah yang diberikan oleh ekosistem mangrove dan ketiadaan perencanaan untuk pembangunan secara integral menjadi ancaman yang serius bagi ekosistem mangrove.
Partisipasi kelompok-kelompok tani dalam manajemen pengelolaan sangat menentukan keberhasilan program restorasi mangrove. Sehingga masyarakat diwajibkan menjaga kelestarian mangrove dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan manfaat ekologi seperti perlindungan garis pantai dan terjaganya biodiversitas ikan tangkapan mereka di laut. Partisipasi masyarakat merupakan instrumen untuk mencapai tujuan tertentu (a means to an end), dimana tujuan dimaksudkan adalah dikaitkan dengan keputusan atau tindakan yang lebih baik yang menentukan kesejahteraan manusia. Interaksi antara manajemen sumberdaya pantai dengan bentuk sistem sosial secara langsung membangun jaringan antara ekologis dan ketahanan sosial masyarakat.
4.      Keterlibatan masyarakat setempat
Masyarakat setempat sebaiknya dilibatkan dalam pengawasan pemungutan hasil sumberdaya dari cagar (dalam hal pemungutan hasil seperti berburu dan pengumpulan kayu bakar tidak bertentangan dengan tujuan pengelolaan). Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove atau bahkan di dalam hutan mangrove, sudah seharusnya diperlakukan sebagai stakeholder utama dan pertama dalam pengelolaan hutan. Tanpa komunikasi yang efektiv proyek konservasi akan relative tidak signifikan . Kemitraan diantara stakeholders utama (pemerintah dan masyarakat) dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan merupakan hal penting yang harus digalang untuk mencapai pengelolaan  dan  pemanfaatan  yang  lestari  dan  berkelanjutan.

PENUTUP
Kesimpulan
            Rehabilitasi merupakan suatu strategi manajemen untuk mencegah degradasi suatu wilayah dan menjadikannya bermanfaat sedangkan Restorasi merupakan upaya memulihkan kawasan hutan yang mengalami kerusakan (degraded) atau terganggu (disturbed) akibat aktivitas manusia atau gangguan alam. Kerusakan mangrove akibat ulah atau aktivitas manusia dan alam. Faktor manusia merupakan faktor paling dominan penyebab keruusakan mangrove yaitu dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan, penebangan pohon mangrove secara sembarangan, sedangkan faktor alam disebabkan banjir, tsunami, badai, abrasi dan hama tanaman.
            Penanganan kerusakan hutan mangrove dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan restorasi dan rehabilitasi dimana kegiatan tersebut dilakukan dengan: pemilihan jenis mangrove untuk restorasi, teknik pembibitan benih untuk program restorasi, persepsi masyarakat sekitar hutan mangrove dan kegiatan restorasi serta keterlibatan masyarakat setempat.
Saran
            Sebaiknya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian ekositem mangrove semakin ditingkatkan sehingga ekosistemnya akan lebih baik dan akan memberi keuntungan tersendiri bagi masyarakat itu sendiri.










DAFTAR PUSTAKA
Auliyani, D., Boedi, H dan Kismartini.  2013. Pengaruh Rehabilitasi Mangrove Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Kabupaten Rembang. ISBN 978-602-17001-1-2  317. Universitas Diponegoro. Semarang.
Basyuni, M. 2002. Panduan Restorasi Hutan Mangrove Yang Rusak (Degrated). Universitas Sumatera Utara. Medan.
Gunawan. 2004. Manfaat Hutan Mangrove. Universitas Sumatera Utara. Medan
Hartono, N. 2001. Program Rehabilitasi Pesisir Deyah Raya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Penanaman Mangrove. Concervation International. Jakarta.
Haryanto, R. 2008. Rehabilitasi Hutan Mangrove Pelestarian Ekosistem Pesisir Pantai dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Novianty, R., Sukaya, S dan Donny, J. 2004. Identivfikasi Kerusakan Dan Upaya Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Di Pantai Utara Kabupaten Subang. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Roy, R., Robin dan Lewis. 2007. Restorasi Hutan Bakau Berwawasan Ekologi. Mangrove Action Project - Indonesia Program. Jakarta.
Septyohadi. 2004. Acuan Dasar (Primer) Perhimpunan Ekologi Restorasi Internasional (SER Internasional) Terhadap Restorasi Ekologis. Universitas Brawijaya. Malang.
Setyawan, A.D., Kusumo, W dan Purin, C. P. 2004.  Ekosistem Mangrove di Jawa Restorasi. Jurnal Biodiversitas. Vol 5 (2). ISSN 1412-033X. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
















1 komentar:

  1. ituDewa Poker Domino QQ | Ceme Judi Domino QQ | Agen Domino QQ | Domino QQ Online | Agen Poker | Judi Poker | Poker Online | Agen OMAHA | Agen Super Ten | BlackJack

    PROMO SPESIAL GEBYAR BULANAN ITUDEWA. KUMPULKAN TURNOVER SEBANYAK-BANYAKNYA DAN DAPATKAN HADIAH YANG FANTASTIS DARI ITUDEWA.

    MAINKAN DAN MENANGKAN HADIAH TOTAL RATUSAN JUTA, TANPA DI UNDI SETIAP BULANNYA!

    ? DAIHATSU ALYA 1.0 D MANUAL ( Senilai Rp.100.000.000,- )
    ? New Yamaha Vixion 150 ( Senilai Rp.25.340.000,- )
    ? Emas Antam 10 Gram ( Senilai Rp.10.160.000,- )
    ? Free Chips 1.500.000
    ? Free Chips 1.000.000
    ? Free Chips 250.000

    SYARAT DAN KETENTUAN : KLIK DISINI

    DAFTARKAN DIRI ANDA SEGERA : DAFTAR ITUDEWA

    1 ID untuk 7 Game Permainan yang disediakan oleh Situs ituDewa

    => Bonus Cashback 0.3%
    => Bonus Refferal 20% (dibagikan setiap Minggunya seumur hidup)
    => Bonus UPLINE REFERRAL UP TO 100.000!
    => Bonus New Member 10%
    => Customer Service 24 Jam Nonstop
    => Support 7 Bank Lokal Indonesia (BCA, BNI, BRI, Mandiri, Danamon, Cimb Niaga, Permata Bank)

    • Deposit Via Pulsa, OVO & GOPAY
    • Pusat Bantuan ituDewa

    Facebook : ituDewa Club
    Line: ituDewa
    WeChat : OfficialituDewa
    Telp / WA : +85561809401
    Livechat : ituDewa Livechat

    BalasHapus