Halo Para Blogger........
Saat ini gue mau sharing nih pengalaman mengenai skin care,
Zaman now wanita mana yang tidak tau apa sih itu skin care??? apalagi dengan semaraknya film korea, bikin hati para wanita iri melihat wajah perempuan Korea
duuhhhh.... kepengen kulit seperti mereka glowing, kinclong dan tidak ada noda sedikit pun,
Ok guys sebenarna mereka itu perawatan dengan skin care dan berbagai treatment dan paling penting dana mendukung guys.
Kali ini gue mau review MS-Glow nih,
Awalnya gue tau info dari teman kerja, gue liat mukanya tidak ada noda jerawat, sementara gue yah ampun jerawatnya lagi kebangetan, berawal ketika gue ganti skin care thera***n, and then gue facial, malah makin hancur donk, jerawatny gede gede banget.
Gue cari info dari internet dan teman gue yang udah jadi konsumennya donk, apalagi MS-Glow udah terdaftar di BPOM gue semakin yakin untuk makai ini skin care.
Nah setelah cari2 info gue niatin donk pakai MS-Glow, Gue langsung cuss ke Cabang di Kemang,
Kliniknya bagus, rapi dan luas juga, awalnya gak pede sih masuk ke dalam karena muka jerawatan, Tapi demi muka glowing beraniin donk.
Ketika gue masuk ke Kliniknya gue juga bingung karena awalnya gue udah infoin mau konsul terlebih dahulu dengan dokternya, tapi mbak mbak resepsionistnya malah langsung nyaranin pakai Paket Acne kata dia ini udah biasa ntar dokter juga nyaranin itu. Gue bingung donk,
Gue kekeh mau konsul dulu malah mbaknya bilang klau mau konsul harus treatment dulu min 500K,
yahhelah makin mikir dah guenya, Finally gue ngikutin kata recepsionistnya makai Paket Acne, dan selama 12 bulan gue setia makai tapi gue heran Jerawatnya timbul tenggelam, dan beruntusan tetap ada, padahal udah lama, dan setiap kali gue mau konsul k dokter ktanya hrs treatment dlu sebanyak 500K,. Dan yang paling buat gue kesel bekas jerawatnya gak hilang2 tapi muka gue putihan sih.
Karena gue gak tahan lagi dengan beruntusan dan bekas jerawat ini, gue putusin untuk beralih dari MS-Glow ini, Sekarang gue lagi Konsul dengan Wijaya Platinum semoga cocok dengan wajah gue.
doain ya guys...
Sebenarnya skin care ini cocok cocokan dengan kulit konsumen, intinya harus sabar sih, kalau memang gak ada perubahan setelah sekian lama kaya gue ini baru beralih.
dan paling penting harus konsultasi dengan dokternya guys supaya bisa menyesuaikan dengan kondisi wajah kita.
Okay sekian dulu ya guys review dari gue.
Semangat untuk para pejuang kulit glowing
Dinarta_Pardede
Senin, 11 November 2019
Minggu, 17 Mei 2015
Logam Berat Zn di Perairan
LOGAM BERAT Zn DI PERAIRAN
Dosen Penanggung Jawab:
Ir. Dartius, M.S
Oleh :
DINARTA PARDEDE
120302035
MSP/A
MATAKULIAH EKOTOKSIKOLOGI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Air merupakan kebutuhan
pokok dalam kehidupan. Kualitas dan kuantitas air sangat bervariasi tergantung
dari peruntukannya. Standar kualitas air untuk kebutuhan nlanusia dalam ha1 ini
untuk minum, masak, mencuci dan mandi lebih tinggi apabila dibandingkan dengan
standar kualitas air untuk keperluan yang lain. Air untuk kebutuhan manusia
biasanya disebut dengan air minum dan dapat berasal dari air tanah (sumur),
penampungan air hujan (PAH) dan air permukaan yang diolah oleh perusahaan
air minum (PAM). Untuk kota-kota
besar di
Indonesia pada umumnya sumbeer air minum berasal dari air tanah atau air
permukaan yang diolah oleh perusahaan air minum. Pencemaran lingkungan di
kota-kota besar yang berasal dari limbah rumah tangga dan industri yang berupa
limbah padat, cair atau gas dapat menurunkan kualitas sumber air minum. Air
yang sehat bagi kebutuhan manusia adalah air yang tidak terkontaminasi dan
tidak dapat menimbulkan penyakit yang disebarkan melalui air, bebas dari unsur-unsur
yang beracun, dan bebas dari sejurnlah mineral dan zat organik yang berlebihan (Suprijanto dan Agustina, 1988).
Pencemaran logam berat
dalam air harus mendapat perhatian yang serius, karena bila terserap dan
terakumulasi dalam tubuh manusia dapat mengganggu kesehatan dan pada beberapa
kasus menyebabkan kematian. Pencemaran logam berat terhadap lingkungan
merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan logam tersebut
oleh manusia. Toksisitas logam pada manusia menyebabkan beberapa akibat
negatif, tetapi yang terutama adalah timbulnya kerusakan jaringan, terutama
jaringan detoksikasi dan ekskresi (hati dan ginjal). Akumulasi logam berat pada
tubuh manusia akan menimbulkan berbagai dampak yang merugikan bagi kesehatan, diantaranya
kerapuhan tulang, rusaknya kelenjar reproduksi, kerusakan otak, dan keracunan
akut pada sistem saraf pusat (Amriani, 2011).
.Adanya logam berat di
perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme, maupun
efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini berkaitan
dengan sifat-sifat logam berat yaitu sulit didegradasi, sehingga mudah
terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit
terurai, dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan
membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut Adanya
logam berat seng (Zn) di dalam air yang melampaui batas dapat menyebabkan
gangguan kesehatan terhadap manusia yang mengkonsumsinya, walaupun seng merupakan
logam yang dibutuhkan oleh tubuh namun berbahaya jika melebihi ambang batas dan
dapat menimbulkan rasa kesat pada air dan dapat menimbulkan gejala muntaber
(Sunti., dkk, 2012).
Adanya
logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan
organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal
ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat yaitu sulit didegradasi, sehingga
mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami
sulit terurai (dihilangkan), dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang
dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme
tersebut (Amriani, 2011).
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui sumber-sumber logam berat di perairan khususnya Zn.
2. Untuk
mengetahui organism yang hidup pada perairan yang tercemar logam berat.
3. Untuk
mengetahui kadar normal, sedang dan berat logam Zn di perairan.
Manfaat
Penulisan
Adapun
manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai bahan bacaan dan sumber
informasi bagi pembaca khususnya mahasiswa dan untuk memenuhi tugas dari
matakuliah Ekotoksikologi Perairan.
PEMBAHASAN
Toksikologi
Toksikologi perairan (aquatic toxicology) adalah studi
kualitatif dan kuantitatif untuk mengetahui dampak buruk (adverse effect) atau
efek toksik dari bahan kimia dan bahan-bahan lain sebagai hasil aktifitas manusia
terhadap organisme perairan. Selain itu, toksikologi perair juga menelaah
konsentrasi atau kuantitas bahan kimia yang diperkiraka terdapat dalam
lingkungan perairan, baik dalam badan perairan, sedimen atau makanan. Efek
toksik dapat berupa kematian (lethality) atau sub-lethal seperti perubahan
dalam pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, pathologi, fisologi, biokimiawi
dan tingkah laku. Efek atau dampak toksik dapat dinyatakan dalam beberapa kriteria
yang dapat dikuantifikasi seperti: jumlah organisme yang mati, persentase telur
menetas, perubahan dalam panjang dan berat, persentase hambatan pada kerja
enzim (Tahir, 2012).
Sifat-sifat fisika dan kimia dari ekosistem perairan
dapat secara signifikan mempengaruhi dampak aktifitas biologis dan
skala/besaran dampak toksik dari bahan kimia atau xenobitics lainnya. Tingkat kerentanan
lingkungan perairan terhadap gangguan bahan kimia bergantung pada beberapa
faktor, meliputi : sifat fisika-kimia dari bahan kimia dan produk-produk
transformasinya, konsentrasi bahan kimia yang memasuki ekosistem, durasi dan
jenis input (akut atau kronik,
tumpahan terputus-putus atau
berkesinambungan), kemampuan
ekosistem untuk mempertahankan diri (kapasitas buffering pH, dinamika
pergerakan massa air) dan lokasi ekosistem terhadap tempat pembuangan limbah
kimia. Hal lain yang patut dicatat, bahwa sesuai kodratnya sebagai organisme perairan,
maka sepanjang hidupnya seluruh organisme ini berada dalam air (seluruh atau
sebagian tubuh tenggelam dalam air). Hal ini memiliki konsekuensi logis sebagai
lokasi spesifik organisme perairan yang sekaligus merupakan reservoir atau menjadi
tempat tenggelam atau larutnya beberapa bahan kimia yang memasuki bahan kimia
yang memasuki ekosistem perairan (Husni dan Esmiralda, 2011).
Menurut Tahir (2012), faktor-faktor yang mempengaruhi
toksisitas, meliputi :
1.
Faktor-faktor yang terkait dengan
pemaparan; bagi suatu bahan kimia metabolit atau produk konversinya, untuk
dapatmenimbulkan respon buruk atau memiliki dampak toksik padaorganisme
perairan maka senyawa/bahan kimia tersebut harusberada dalam posisi kontak dan
bereaksi dengan reseptor yang tepatpada organisme, dengan konsentrasi yang
cukup tinggi dan durasikontak yang cukup lama. Konsentrasi dan waktu pemaparan
yang dibutuhkan untuk dapat menimbulkan dampak atau respon buruk bervariasi
menurut jenis bahan kimia, spesies organisme dan tingkat keparahan dampak yang
ditimbulkan. Dalam pendugaan dampak toksik bahan kimia, faktor-faktor yang
nyata terkait dengan pemaparan adalah: jenis, durasi, frekuensi pemaran dan
konsentrasi bahan kimia. Organisme perairan dapat terpapar pada bahan kimia
yang terdapat dalam air, sedimen dan bahan-bahan makanan. Bahan kimia
hidrofilik (larut dalam air) lebih tinggi tingkat ketersediaannya dibanding
dengan bahan kimia hidrofobik (sulit larut dalam air).
2.
Faktor-faktor yang terkait dengan
organisme: spesies memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap bahan
kimia. Perbedaan kerentanan ini diduga disebabkan oleh beberapa hal seperti:
perbedaan aksesibilitas toksikan terhadap organisme dimana beberapa spesies
tertentu memiliki kemampuan untuk secara efektif ngeluarkan bahan
toksik dalam waktu
singkat (contoh: mekanisme
penutupan cangkang dan kemampuan melakukan anaerob pada kerang/bivalvia).
Selain itu, laju dan pola metabolisme dan ekskresi dapat mempengaruhi tingkat
kerentanan disebut. Hal lain yang mempengaruhi tingkat kerentanan organism
terhadap toksikan adalah faktor genetis, bahan makanan, serta kesehatan dan
nutrisi/gizi organisme. Faktor usia atau stadia perkembangan organisme juga
menentukan tingkat kerentanan (vulnerability), yang disebabkan oleh
perkembangan mekanisme.
3.
Faktor-faktor lingkungan eksternal:
toksisitas bahan kimia dap dipengaruhi oleh lingkungan eksternal organisme yang
terkait erat dengan ketersediaan bahan kimia dalam media air seperti DO, pH,
suhu dan bahan padat terlarut.
4.
Faktor-faktor yang terkait dengan bahan
kimia. Ketidak murnian (impurities) suatu bahan kimia dijumpai dari batch-batch
yang dihasilkan oleh produsen yang berbeda. Hal lain yang patut dicatat adalah
perbedaan tingkat kelarutan, tekanan penguapan
dan pH, karena faktor-faktor ini secara jelas mempengaruhi ketersediaan,
persistensi, transfromasi dan bentuk/nasib akhir bahan kimia
Logam Zn di Perairan
Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar
berbahaya yaitu logam berat tidak dapat dihancurkan (non degradable) oleh
organisme hidup di lingkungan dan terakumulasi ke lingkungan, terutama
mengendap di dasar perairan membentuk senyawa komplek bersama bahan organic dan
anorganik secara adsorbsi dan kombinasi. Biota air yang hidup dalam perairan
tercemar logam berat, dapat mengakumulasi logam berat tersebut dalam jaringan tubuhnya.
Makin tinggi kandungan logam dalam perairan akan semakin tinggi pula kandungan
logam berat yang terakumulasi dalam tubuh hewan tersebut. Faktor lingkungan
perairan seperti pH, kesadahan, temperature dan salinitas juga mempengaruhi
daya racun logam berat. Penurunan pH air akan menyebabkan daya racun logam
berat semakin besar. Kesadahan yang tinggi dapat mempengaruhi daya racun logam
berat, karena logam berat dalam air yang berkesadahan tinggi akan membentuk senyawa
kompleks yang mengendap dalam dasar perairan (Rochyatun dan Abdul, 2007).
Seng merupakan unsur yang berguna dalam tubuh manusia,
binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Karena kegunaannya tersebut maka Zn ditemukan
dalam air, tanaman maupun binatang.
Menurut Permenkes standar dalam air minum maksimum yang diperbolehkan
adalah 15 mg/l. Efek racun Zn pada manusia adalah pada konsentrasi
yang tinggi antara 300-360 ppm, yaitu menyebabkan gangguan fisik seperti diare
yang berat, keram perut dan muntah. Suatu sumber air minum yang mengandung Zn 26,6
mg/l tidak berbahaya bagi manusia, tetapi untuk air minum dengan kadar Zn 30,8
mg/l sudah mual dan mabuk. Dari segi estetika
air yang mengandung ZI. 30 mg/l akan tampak seperti susu dan bila
direbus timbul suatu lapisan seperti minyak pada permukaan airnya (Suprijanto
dan Agustina, 1988).
Salah
satu jenis logam berat hasil pengolahan nikel adalah Zinc atau yang lebih
populer dikenal dengan sebutan seng (Zn). Logam Zn termasuk sebagai mineral mikronutrien,
artinya logam ini dibutuhkan sebagai nutrien yang essensial oleh organisme
dalam jumlah yang relatif sedikit. Kadar Zn yang tinggi dapat bersifat racun,
dan dapat menyebabkan gangguan metabolisme Fe dan Cu, gejala teratoma, seminoma
serta choriopithelioma. Semakin rendah pH maka akan semakin banyak gugus basa
lemah yang terprotonisasi pada permukaan akibatnya terjadi penurunan jumlah
serapan ion logam Zn dikarenakan kemampuan untuk menyerap ion logam Zn semakin
lemah (Saefudin., dkk, 2000).
Sumber
– Sumber Logam Zn
Limbah yang biasa
mengandung logam berat berasal dari pabrik kimia, listrik, dan elekronik, logam
dan penyepuhan elektro (electroplating), kulit, metalurgi dan cat serta bahan
pewarna. Limbah padat permukiman juga mengandung logam berat. Logam berat yang
masuk ke dalam perairan kebanyakan berasal dari kegiatan manusia. Akan tetapi
logam berat di dalam lingkungan tidak dengans endirinya membahayakan kehidupan
makhluk hidup. Logam berat membahayakan apabila masuk ke dalam sistem
metabolisme makhluk dalam jumlah melebihi ambang batas. Ambang batas untuk tiap
macam logam berat dan untuk tiap jeniis makhluk hidup berbeda-beda. Pemasukan
logam berat ke dalam sistem metabolisme manusia dan hewan dapat secara langsung
atau tidak langsung. Pemasukan secara langsung terjadi bersamaan dengan air
yang diminum (Notohadiprawiro, 2010).
Sumber cemaran logam berat Zn dapat berasal
dari berbagai aktivitas manusia yang menghasilkan limbah berupa pencemar.
Bahan-bahan pencemar tersebut diangkut oleh air hujan dan gerakan air dari laut
dan perairan tawar menuju muara sungai yang merupakan tempat bertemunya perairan
laut dan perairan tawar. Logam Zn dalam perairan dipekatkan melalui proses
biologi dan kimia-fisika. Bioakumulasi dan biomagnifikasi merupakan proses
biologi yang mampu mengendapkan logam pada tubuh organisme melalui rantai
makanan. Pada proses kimia fisika, logam berat terlarut dan terendap pada
sedimen dan dapat pula terabsorbi pada zat tersuspensi. Apabila diketahui kadar logam Zn yang telah
melebihi baku mutu, maka perlu dilakukan tindak lanjut dalam mencegah gangguan
yang dapat disebabkan logam Zn (Amriani, 2011).
Logam Seng (Zn) cenderung membentuk ion jika berada dalam
air. Ion Seng (Zn) mudah terserap dalam sedimen dan tanah serta kelarutan logam
berat Seng (Zn) dalam air relatif rendah pada air, logam berat cenderung mengikuti
aliran air dan pengaruh pengenceran ketika ada air masuk, seperti air hujan,
turut mengakibatkan menurunnya konsentrasi logam berat pada air. Konsentrasi
logam berat pada air akan turut mempengaruhi konsentrasi logam berat yang ada pada
sedimen. Kecenderungan peningkatan konsentrasi logam berat di sedimen
diakibatkan oleh tingginya konsentrasi logam berat tersebut di air. Selain itu,
terdapat parameter-parameter lain yang berpengaruh dalam kesetimbangan reaksi di
sistem perairan, seperti pH, konsentrasi logam dan tipe senyawanya, kondisi
reduksi-oksidasi perairan, dan bilangan oksidasi dari logam tersebut (Sunti.,dkk, 2012).
Adanya aktivitas pembuangan limbah
rumah tangga, limbah pertanian yang banyak menggunakan pupuk pestisida, peningkatan
aktivitas di industri serta adanya aktivitas pembuangan limbah domestik lain yang
mengandung logam berat Seng (Zn). Air limbah industri air yang dihasilkan oleh
industri, baik akibat proses pembuatan atau produksi yang dihasilkan industri tersebut
maupun proses lainnya. Limbah non domestik adalah limbah
yang berasal dari pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan,
transportasi, dan sumber-sumber lain (Husni dan Esmiralda, 2011).
Kadar
Logam Zn di Perairan
Seng merupakan unsur yang berguna dalam tubuh manusia,
binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Karena kegunaannya tersebut maka Zn ditemukan
dalam air, tanaman maupun binatang. Kadar Zn yang terdeteksi dalam air PAM
pada penelitian ini berkisar antara 0,0l-4,97 ppm dan dalam air sumur
berkisar antara 0,0l-5,59 ppm. Menurut Permenkes standar dalam air minum maksimum
yang diperbolehkan adalah 15 mg/l. Efek racun Zn pada manusia adalah pada konsentrasi
yang tinggi antara 300—360 ppm, yaitu menyebabkan gangguan fisik seperti diare
yang berat, keram perut dan muntah. Suatu sumber air minum yang mengandung Zn
26,6 mg/l tidak berbahaya bagi manusia, tetapi untuk air minum dengan badar Zn
30,8 mg/l sudah menyebabkan mual dan mabuk. Dari segi estetika air yang mengandung Zn 30 mg/l akan
tampak seperti susu dan bila direbus timbul suatu lapisan seperti minyak pada permukaan
airnya (Suprijanto dan
Agustina, 1988)
Nilai Ambang Batas Zn dalam sedimen untuk kehidupan biota
adalah 271 ppm. Kadar logam berat Zn yang terdapat dalam sedimen yang tidak
terkontaminasi paling rendah adalah sebesar 0.01 ppm. Zn juga bersifat racun
dalam kadar tinggi, namun dalam kadar rendah dibutuhkan oleh organism sebagai
ko-enzim. Zn pada kadar 60 ppm dapat menyebabkan kematian 50 hewan ikan hal ini
berdasarkan percobaan LC50 selama 96 jam (Muhajir., dkk, 2004).
Kandungan
logam Zn paling tinggi dibanding dengan logam lain. Ini disebabkan oleh sifat
logam Zn yang essensial bagi organisme ditambah lagi dengan banyaknya limbah
yang mengandung Zn baik yang berasal dari rumah tangga maupun industri yang
masuk ke perairan. Logam Zn memiliki batasan kadar maksimum lebih tinggi dari
logam Cu dan Pb karena logam berat Zn banyak terdapat di dalam enzim yang
digunakan dlam proses metabolisme dan membantu pertumbuhan (Nurrachmi., dkk,
2011).
Organisme di Perairan
Mengandung Logam Berat Zn
Salah satu biota laut
yang diduga akan terpengaruh langsung akibat penurunan kualitas perairan dan
sedimen di lingkungan pantai adalah hewan jenis kerang-kerangan. Komponen
biotik dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisik, kimia, dan biologi
suatu perairan, salah satu biota yang dapat digunakan sebagai parameter biologi
dalam menentukan kondisi suatu perairan adalah jenis kerang-kerangan. Kerang
merupakan sumber bahan makanan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena
mengandung protein dan mineral. Kerang hidup di daerah perairan dan bisa
bertahan hidup di tempat berlumpur. Kerang memiliki mobilitas yang rendah,
sehingga dapat mengakumulasi logam berat yang ada di lingkungannya. Oleh sebab
itu, adanya logam berat dalam tubuhnya dipandang dapat mewakili keberadaan
logam berat yang ada dihabitatnya (Amriani, 2011).
Kerang Anodonta woodiana merupakan salah satu
organisme air yang hidup menetap, bersifat filter feeder dan mampu berkembang
biak pada tekanan ekologis yang tinggi sesuai dengan sifatnya, maka dalam
pertumbuhan kerang Anodonta woodiana dapat mengakumulasi logam berat dalam
tubuhnya jika hidup pada perairan yang terkontaminasi logam berat. Tingginya
kandungan logam pada kerang Anodonta
woodiana disebabkan adanya aktivitas pembuangan limbah rumah tangga, limbah
pertanian yang banyak menggunakan pupuk pestisida, eningkatan aktivitas di industri
serta adanya aktivitas pembuangan limbah domestik lain yang mengandung logam
berat Seng (Zn) ke dalam perairan sehingga terakumulasi dalam tubuh kerang
(Sunti.,dkk, 2012).
Jika dibandingkan
kemampuan plankton dalam mengakumulasi logam Pb > logam Zn dalam sedimen. Kondisi
demikian dikarenakan logam Zn masih merupakan logam yang essensial bagi
plankton dalam proses pertumbuhannya sehingga kadar dalam tubuh plankton
tersebut sebagian kecil telah digunakan. Berbeda halnya dengan logam Pb yang
sama sekali tidak dibutuhkan oleh tubuh.
Kemampuan plankton dalam mengakumulasi logam Zn ini tidak jauh berbeda. Kondisi
ini dikarenakan kecenderungan plankton mengakumulasi logam di perairan. Nilai
faktor biokonsentrasi logm Zn di plankton terhadap sedimen berkisar antara 0,317
– 2,041 dengan rata-rata 1,221 dan standar
deviasi sebesar 0,71.
Faktor biokonsentrasi
menunjukkan bahwa plankton dapat mengakumulasi
sebesar 1,221 kali lipat logam Zn yang terkandung dalam sedimen.Walaupun umur plankton
jauh lebih pendek dibandingkan ikan,
tetapi kemampuan mengakumulasi
logam berat dalam air jauh lebih tinggi (Wahyuni., dkk, 2013).
Kandungan
Zn terdeteksi pada ikan teri dengan nilai yang masih di bawah batas maksimum
konsentrasi logam Zn yang diperbolehkan dalam otot biota laut sebesar 100 mg/kg
berat kering. Sama halnya pada kerang darah, kandungan logam Zn terdeteksi
dengan nilai ini masih jauh dari batas cemaran yang di bolehkan dalam baku mutu
yang ditetapkan. Hal ini terjadi dikarenakan konsentrasi logam Zn dalam air dapat mengendap
ke dasar perairan (sedimen),
sehingga kandungan logam di sedimen terlarut di air yang menyebabkan kandungan
logam di air tinggi (Hasti, 2013).
BAHAN BACAAN
Amriani.
2011. Bioakumulasi Logam Berat
Timbal (Pb) Dan Seng (Zn) Pada Kerang Darah (Anadara granosa) Dan Kerang Bakau (Polymesoda bengalensis) Di Perairan Teluk Kendari. Universitas Diponegoro. Semarang.
Hasti, W.
2013. Kandungan Logam Berat pada
Air, Sedimen dan Plankton di Daerah Penambangan Masyarakat Desa Batu Belubang
Kabupaten Bangka Tengah. ISBN
978-602-17001-1-2. Universitas
Diponegoro. Semarang.
Husni, H dan Esmiralda. Uji Toksisitas Akut Limbah Cair Industri Tahu
Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio Lin).
Universitas Andalas. Padang.
Muhajir.,
Edward dan Fasmi, A. 2004.
Akumulasi Logam Berat Pb, Cd, Cu, Zn Dan Cr Dalam Sedimen Di Muara Sungai
Cisadane Ciliwung Dan Citarum Teluk Jakarta.
Jurnal Sorihi. ISSN
169-1483. Pusat Oseanografi LIPI. Jakarta.
Notohadiprawiro, T.
2010. Logam Berat Dalam Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surabaya.
Nurrachmi, I. Bintal, A dan M, Nudi Habibi.
2011. Bioakumulasi Logam Cd, Cu, Pb Dan
Zn Pada Beberapa Bagian Tubuh ikan Gulama (Sciaena
Russell) Dari Perairan Dumai.
Universitas Riau. Pekanbaru.
Rochyatun, E dan Abdul, R. 2007. Pemantauan Kadar Logam Berat Dalam
Sedimen Di Perairan Teluk Jakarta.
Jurnal Makara Sains Vol:11 (1).
Pusat penelitian Oseanografi.
Jakarta.
Saefudin., Trisna, P dan
Kusnadi. 2000. Pengaruh pH dan Waktu Kontak Terhadap
Biosorpsi Logam Zn Oleh Biomassa Aspergillus niger van Tieghem Pada Larutan
Limbah Pertambangan Nikel. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Sunti, I., Anwar, D dan Syamsuar, M. 2012. Studi Kandungan Logam Berat Seng (Zn) Dalam
Air Dan Kerang Baja-Baja(Anodonta
woodiana) Di Sungai Pangkajene Kabupaten Pangkep. Universitas Hasanuddin. Semarang.
Suprijanto, I dan Agustina, L. 1988. Kandungan
Logam Berat Dalam Sumber Air Minum Di Dki Jakarta. Vol 16 (2). Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan Badan Litbang Kesehatan. Jakarta.
Tahir, I. 2012.
Prinsip Umum Toksikologi Perairan. Universitas Brawijaya. Malang.
Wahyuni, H., Setia, B dan Dwi, P. 2013. Konsentrasi
Logam Berat Di Perairan, Sedimen Dan Biota Dengan Faktor Biokonsentrasinya Di
Perairan Batu Belubang, Kab. Bangka Tengah.
Universitas Diponegoro. Semarang
Upaya Restorasi Dan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove
Makalah Syarat Pengganti UTS Matakuliah MSP
Identifikasi Kerusakan Dan
Upaya Restorasi Dan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove
OLEH :
DINARTA PARDEDE 120302035
MATAKULIAH MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Di
dalam wilayah laut dan pesisir terkandung sejumlah potensi sumberdaya yang
besar dan beragam. Salah satu sumberdaya tersebut dapat diperbarui (renewable
resources), seperti ikan, udang, moluska, karang mutiara, kepiting, rumput
laut, hutan mangrove dan hewan
karang yang keberadaan dan
kelestarianya tergantung dari pelestarian habitatnya. Selain hal tersebut juga
berguna dalam jasa-jasa lingkungan (environmental service), seperti tempat-tempat
(habitat) yang indah dan menyejukkan untuk potensi peristiwa dan rekreasi,
media transportasi. Dari semua itu, maka potensi kelautan dan pesisir mempunyai
nilai ekonomi yang tinggi bagi semua elemen masyarakat, khususnya masyarakat
pesisir (Haryanto, 2008).
Mangrove merupakan
ekosistem yang sangat produktif. Keberadaannya mampu memperkaya keanekaragaman hayati,
menghasilkan berbagai produk hutan komersial, melindungi garis pantai, serta
mampu mendukung produksi perikanan di kawasan pesisir. Mangrove memiliki sistem
adaptasi yang unik mengingat kondisi lingkungannya yang ekstrim, seperti kadar
garam yang tinggi serta tanah yang kurang stabil dan tergenang. Mangrove di
Indonesia adalah yang terbesar di dunia, luas mangrove di Indonesia adalah
3.112.989 m 2 atau 22,6% dari luas mangrove yang ada di dunia. Namun dalam
beberapa tahun terakhir, faktor antropogenik telah memberikan pengaruh pada
ekosistem mangrove ini. Sekitar 45% mangrove di Indonesia telah mengalami
degradasi cukup parah karena aktivitas manusia. Jumlah kerusakan tersebut
diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan
pemukiman di kawasan pesisir (Auliyani., dkk. 2013).
Vegetasi
mangrove terdiri dari beberapa jenis antara lain Rhizophora apiculata, R.
mucronata, Bruguiera gymnorrhiza,
B. parfivlora, B. sexangula, Avicennia sp, Sonneratia spp, Xylacarpus granatum, dan
Ceriops tagal. Adaptasi pohon-pohon mangrove terhadap keadaan tanah
berlumpur dan kekurangan oksigen dalam tanah adalah dengan membentuk system
perakaran yang khas. Vegetasi mangrove mempunyai struktur seragam yang tidak
mengenal lapisan tajuk. Ekosistem hutan mangrove memiliki beberapa sifat
kekhususan dipandang dari kepentingan sumberdaya alam, yakni letak hutan
mangrove terbatas pada tempat tertentu, peranan ekologis ekosistem hutan
mangrove bersifat khas, berbeda dengan peran ekosistem hutan lainnya, dan hutan
mangrove memiliki potensi hasil yang bernilai ekonomis tinggi, serta hutan
mangrove sebagai sumber daya alam yang dapat dipulihkan pendayagunaannya memerlukan
pengelolaan yang tepat, sejauh mungkin
dapat mencegah pencemaran
lingkungan hidup dan
menjamin kelestariannya untuk keperluan masa kini dan akan datang
(Basyuni, 2002).
Pertambahan
jumlah penduduk yang tinggal di kawasan pesisir menyebabkan tekanan terhadap
ekosistem mangrove yang ada. Sebagaimana yang terjadi di pesisir pantai, jumlah
mangrove yang ada mengalami penurunan yang drastis seiring dengan tingginya
aktivitas ekonomi di kawasan ini. Beberapa faktor penyumbang terbesar kerusakan
ekosistem mangrove di pesisir yaitu : pertambakan, penebangan mangrove,
reklamasi dan sedimentasi, serta pencemaran lingkungan. Penurunan jumlah
mangrove yang terjadi semakin memperparah kondisi pesisir yang merupakan daerah
abrasi. Upaya penanaman kembali mulai dilakukan untuk memulihkan keseimbangan
lingkungan di kawasan pesisir. Program rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan akan
menunjukkan hasil yang signifikan. Keberhasilan rehabilitasi tersebut akan memberikan
pengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir yang tinggal di
sekitarnya (Auliyani., dkk. 2013).
Hutan mangrove memiliki nilai ekonomis dan ekologis
yang tinggi, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana
dalam mempertahankan, melestarikan dan pengelolaannya. Kondisi hutan mangrove
pada umumnya memiliki tekanan berat sebagai akibat dari tekanan krisis ekonomi
yang berkepanjangan. Selain dirambah dan dialihfungsikan, kawasan mangrove
dibeberapa daerah kini marak terjadi kegiatan restorasi dan rehabilitasi. Kegiatan
tersebut dilakukan untuk memulihkan kondisi ekosistem mangrove yang telah rusak
agar ekosistem mangrove dapat menjalankan kembali fungsinya dengan baik. Upaya
rehabilitasi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang berhubungan
dengan kawasan mangrove (Novianty., dkk. 2004).
Mangrove
tumbuh di berbagai kondisi hidrologi dan iklim sehingga menciptakan hamparan
yang luas dari berbagai macam komunitas bakau. Pola klasik mangrove telah meluas
menjadi sedikitnya empat variasi yang semuanya termasuk suatu kesatuan yang
didominasi oleh spesies seperti “smooth cordgrass” ( Spartina alterniflora ) atau
saltwort ( Batis maritima ). Peran smooth cordgrass yang berperan sebagai
“spesies perintis” dimana pada mulanya tumbuh pada lahan gundul dan selanjutnya
mempermudah pertumbuhan mangrove dikemudian hari sampai menjadi spesies yang
dominan. Bahkan setelah mangrove tumbuh dominan, beberapa spesies asli yang
tumbuh di paya pasang surut ini kadang masih tersisa. Pola ini diperkenalkan
sebagai ciri khas habitat mangrove, dimana komponen-komponen tumbuhan perintis
ini seringkali ada (Roy., dkk, 2007).
Sangat mungkin melaksanakan restorai fungsi mangrove, dataran
garam, atau sistem lainnya meskipun parameter seperti jenis dan kondisi tanah
sudah berubah dan flora dan faunanya juga telah berganti. Namun jika tujuan
dari restorasi adalah untuk mengembalikan suatu wilayah ke kondisi asli, maka
kemungkinan tingkat kegagalan akan lebih tinggi. Restorasi terhadap ciri-ciri
ekosistem tertentu dan tiruan atas fungsi alaminyalah yang lebih memungkingkan
untuk sukses daripada restorasi ke kondisi aslinya. Kenyataan ini harus
dipertimbangkan selama perencanaan rehabilitasi berlangsung (Novianty., dkk. 2004).
Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan makalah yang berjudul “Restorasi dan Rehabilitasi Hutan
Mangrove Pelestarian Ekosistem Pesisir Pantai” adalah:
1. Untuk
mengetahui tujuan dan manfaat upaya restorasi dan rehabilitasi pada hutan
mangrove
2. Untuk
mengetahui penanganan pada ekosistem mangrove yang telah rusak
3. Sebagai
salah satu syarat pengganti Ujian Tengah Semester Matakuliah Manajemen
Sumberdaya Perairan.
PEMBAHASAN
Ekosistem
Mangrove
Menurut Surat Keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan
Departemen Pertanian No. 60/Kpts/DJ/I/1978 tentang silvikultur hutan payau,
hutan mangrove adalah tipe hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau sungai
yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove adalah sebutan umum
yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang
didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang
mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Ciri-ciri hutan mangrove
adalah sebagai berikut : tidak dipengaruhi iklim, terpengaruh pasang surut,
tanah tergenang air laut atau berpasir dan tanah liat, tanah rendah pantai,
hutan tidak mempunyai stratum tajuk, tinggi mencapai 30 meter. Jenis tumbuhan
mulai dari laut ke darat adalah Rhizophora,
Avicennia, Soneratia, Xylocarpus, Lumnitzera, Bruguiera dan tumbuh-tumbuhan
bawah yang hidup diantaranya Acrostichum
aureum, Achanthus illicifolius, dan
Archanthus ebracteatus (Basyuni, 2002).
Tempat ideal bagi pertumbuhan hutan mangrove adalah di
sekitar pantai, delta, muara sungai yang arus sungainya banyak mengandung pasir
dan lumpur serta umunya pada pantai landai yang terhindar dari ombak besar.
Vegetasi mangrove mempunyai zonasi yang khas, dicirikan oleh adanya perbedaan
jenis yang ersusun menurut urutan tetentu walaupun dengan batas yang kurang
jelas. Secara ekologis zonasi jenis di hutan mangrove dari arah laut ke darat
berturut-turut adalah Sonneratia spp,
Rhizophora spp, Bruguiera spp, Ceriops
spp, Lumnitzera spp dan Xylocarpus spp. Dari seluruh jenis ini,
nilai ekonomi kayu Rhizophora spp dan
Bruguiera spp paling tinggi. Hutan
mangrove bagi kebanyakan pantai pesisir merupakan suatu daerah pinggiran yang
berguna dan produktif, dan juga melindungi pesisir dari ombak dan perembesan
air asin, dan selanjutnya mempunyai fungsi dan potensi yang secara garis
besarnya dapat dibagi tiga aspek : (1) aspek fisik, (2) aspek biologi, dan (3)
aspek ekonomis (Roy., dkk, 2007).
Ekosistem mangrove merupakan tempat
di mana air pasang dan arus pantai membawa perbedaan terhadap hutan dan di mana
tumbuh-tumbuhan beradaptasi terhadap perubahan kimiawi, fisika dan karakteristik
biologis lingkungannya. Batasan-batasan dari ekosistem daerah pesisir ini dapat
disesuaiakan definisinya terhadap yang berhubungan dengan bumi dan ekosistem
lautan yang membatasinya. Dalam tahun terbaru ada studi-studi khusus mengenai
fauna, flora, ekologi, hidrologi fisiologi dan produktivitas dari banyak
perbedaan ekosistem-ekosistem mangrove, kebanyakan adalah kondisi dalam keadaan
asli. Sering kali kita menghadapi kondisi wilayah pesisir dan laut yang sudah
tidak mampu melangsungkan fungsi ekologisnya atau sudah tidak utuh secara
ekologis. Dalam perencanaan kawasan konservasi, kita harus dapat menilai dan
mengevaluasi keberadaan sasaran konservasi di wilayah perencanaan. Seperti yang
terjadi di wilayah-wilayah lain, di banyak wilayah pesisir di Indonesia,
kondisinya telah terfragmentasi sehingga fungsionalitas ekosistem telah berada
di bawah viabilitas, atau kelayakan. Berbagai bentuk gangguan yang merupakan
(Gunawan, 2004).
Restorasi
dan Rehabilitasi
Pengertian ekologi restorasi adalah proses mengubah
dengan sengaja keadaaan lingkungan suatu lokasi guna menetapkan suatu ekosistem
yang bersifat tertentu, asli, dan bersejarah. Tujauannya untuk mengembalikan
struktur, fungsi, kenekragaman dan dinamika suatu ekosistem yang dituju. Tujuan
utama restorasi mangrove ada dua, yaitu : merestorasi fungsi ekologi hutan
mangrove yang rusak (degraded) dan mendapatkan produk hutan yang mempunyai
nilai komersial. Dalam konteks ini nilai komersial berarti produk hutan yang
dibutuhkan oleh penduduk sekitar sebagai sumber energi dan perumahan selain
untuk industri. Dua tujuan ini menentukan spesies mangrove yang akan ditanam,
untuk tujuan restorasi ekologi semua spesies mangrove dapat
dimanfaatkan/ditanam. Restorasi dilakukan hingga mencapai struktur dan
komposisi spesies semula, melalui suatu program reintroduksi yang aktif,
terutama dengan cara menanam dan membenihkan spesies tumbuhan semula (Basyuni,
2002).
Restorasi merupakan upaya memulihkan kawasan hutan yang mengalami
kerusakan (degraded)
atau terganggu (disturbed) akibat aktivitas manusia atau gangguan alam. Dengan
upaya restorasi, kemungkinan pulihnya proses ekologi akan kembali, serta dengan
upaya ini, ketahanan yang menjadi syarat berlangsungnya pemulihan sistem dapat
tercapai. Ekosistem yang membutuhkan restorasi
umumnya adalah ekosistem yang telah mengalami perubahan atau kerusakan akibat
aktivitas-aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak. Dalam beberapa
kejadian, dampak terhadap kerusakan ekosistem diperparah dengan terjadinya
bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir, badai atau letusan gunung berapi
yang mengakibatkan ekosistem tidak dapat lagi dipulihkan seperti sediakala.
Program restorasi berupaya memulihkan kembali ekosistem sebagaimana mulanya.
Oleh karena itu, mengetahui keadaan awal suatu ekosistem sangatlah diperlukan
sebagai dasar perencanaa program restorasi (Septyohadi, 2004)
Menurut Hartono (2001), ciri-ciri
ekosistem terestorasi adalah:
1. Ekositem yang telah pulih berisi kumpulan karakteristik dari
spesies-spesies yang terdapat dalam ekosistem dan menjadi acuan bagi struktur
masyarakat
2. Ekosistem yang telah pulih terdiri dari spesies endemik utama
3. Semua kelompok fungsional yang diperlukan untuk pengembangan
lanjutan dan stabilitas ekosistem dipulihkan haruslah terwakili, jika tidak,
kelompok yang hilang berpotensi untuk dikuasai secara alami.
4. Lingkungann fisik dari ekosistem dipulihkan mampu
mempertahankan populasi serta mereproduksi spesie-spesies yan diperlukan untuk
keberlanjutan atau pengembanhan sesuai keinginan
5. Ekosistem yang dipulihkan haruslah dapat berfungsi normal
untuk tahap ekologi pembangunan.
Tujuan utama
restorasi mangrove adalah mengelola struktur, fungsi, dan proses-proses ekologi
pada ekosistem tersebut, serta
mencegahnya dari kepunahan,
fragmentasi atau degradasi lebih lanjut. Pada kondisi ini, homeostasis ekosistem
secara permanen terhenti, sehingga menghambat proses sukses sekunder secara
normal untuk menyembuhkan area yang rusak. Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya landskap,
mempertahankan keberlanjutan produksi
sumberdaya alam (khususnya perikanan dan kayu), melindungi
kawasan pantai, serta fungsi sosial. Tujuan restorasi perlu ditetapkan
berdasarkan masukan dari para pihak dan merupakan konsensus bersama, sehingga
mendapat dukungan secara luas, tanpa dukungan para pihak se tempat keberhasilan
restorasi dalam jangka panjang sangat kecil. Keuntungan restorasi
komunitas mangrove meliputi:
konservasi dan pengembalian spesies yang pernah ada, spesies yang memiliki
daerah jelajah luas, dan burung-burung migran; mendaur-ulang nutrien dan
menjaga keseimbangan nutrisi pada muara sungai; melindungi jaring-jaring
makanan pada hutan mangrove, muara, dan laut; menjaga habitat fisik dan tempat
pembesaran anakan berbagai spesies laut komersial; melindungi lahan dari badai,
menjaga garis pantai, dan mengendapkan lumpur; meningkatkan kualitas dan
kejernihan air dengan menyaring dan menjebak sampah dan sedimen yang dibawa air
permukaan dari hulu sungai (Setyawan., dkk. 2004).
Rehabilitasi
memiliki kesamaan mendasar dengan restorasi dalam hal sejarah ekosistem atau
sebelum keberadaan ekosistem sebagai model (acuan). Namu kedua hal ini berbeda
dalam hal tujuan dan strateginya. Rehabilitasi menekankan pada perbaikan proses
ekosistem, produktivitas dan jasa, sedangkan tujuan restorasi juga mencakup
pembentukan kembali integritas biotik yang sudah ada dalam hal komposisi jenis
dan struktur komunitas. Meskipun demikian restorasi mencakup sebagian besar
kegiatan yang sebelumnya diidentifikasi sebagai rehabilitasi. Rehabilitasi merupakan suatu strategi
manajemen untuk mencegah degradasi suatu wilayah dan menjadikannya bermanfaat (Septyohadi, 2004)
Rehabilitasi dapat dilakukan ketika
suatu sistem telah berubah dalam tingkat tertentu sehingga tidak dapat lagi
memperbaiki atau memperbaharui diri secara alami. Dalam kondisi seperti ini, ekosistem
homeostasis telah berhenti secara permanen dan proses normal untuk suksesi
tahap kedua atau perbaikan secara alami dari kerusakan terhambat oleh berbagai
sebab. Konsep ini belum pernah dianalisis atau didiskusikan secara mendetail
pada habitat mangrove. Sehingga manager
restorasi seringkali ditekankan untuk melakukan penanaman mangrove sebagai pilihan
pertama restorasi. Meskipun pendekatan terbaik restorasi adalah dengan
mengetahui penyebab punahnya mangrove, tangani penyebabnya dan kemudian bekerja
dengan proses perbaikan alami untuk membangun kembali habitat mangrove. Bibit mangrove
hanya ditanam jika mekanisme alami tidak memungkinkan dan hanya setelah
dilakukan pembenahan hidrologi (Setyawan., dkk.
2004).
Permasalahan
pada Ekositem Mangrove
Permasalahan yang terjadi pada ekosistem mangrove adalah
kerusakan mangrove akibat ulah atau aktivitas manusia dan alam. Faktor manusia
merupakan faktor paling dominan penyebab keruusakan mangrove yaitu dalam hal
pemanfaatan lahan yang berlebihan, penebangan pohon mangrove secara
sembarangan, sedangkan faktor alam disebabkan banjir, tsunami, badai, abrasi
dan hama tanaman.
Bersamaan dengan terjadinya
kerusakan pada sebagian besar hutan mangrove di Indonesia yang diawali dengan
adanya degradasi luasan hutan, degradasi jenis, konversi hutan mangrove,
eksploitasi dan pemanfaatan hutan mangrove yang tidak sesuai dengan fungsi dan
tujuannya serta kerusakan kondisi biofisik ekosistem mangrove dan ekosistem
sekitranya. Penurunan kualitas dan kuantitas hutan mangrove mengakibatkan
menurunnya kualitas biofisik ekosistem hutan mangrove dan lingkungan sekitarnya,
seperti abrasi pantai, hilangnya habitat burung, banjir dan menurunnya
produktivitas perairan. Sehingga ekosistem mangrove
telah berubah ke tingkat tertentu sehingga tidak bisa lagi diperbaiki atau
memperbaharui diri sendiri.
Penanganan
Kerusakan Ekosistem Mangrove
Penanganan yang dapat dilakukan dalam mengatasi kerusakan
mangrove adalah dengan cara mengadakan upaya restorasi dan rehabilitasi
Menurut Setyawan, dkk (2004), terdapat lima langkah
penting bagi keberhasilan restorasi mangrove yaitu:
1.
Pemahaman autekologi setiap spesies mangrove, meliputi
pola reproduksi, distribusi propagul, dan pemantapan seedling.
2.
Pemahaman pola hidrologi yang mempengaruhi distribusi,
pemantapan, dan pertumbuhan spesies mangrove yang diinginkan.
3.
Pemahaman perubahan lingkungan yang dapat mencegah
suksesi sekunder secara alami.
4.
Restorasi sifat hidrologi, dan bila
memungkinkan penggunaan propagul alami.
5.
Penanaman dilakukan apabila jumlah rekruitmen alami
tidak mencukupi untuk penyembuhan.
Faktor penting lainnya
yang menentukan keberhasilan restorasi
adalah tingkat kerjasama dari
masyarakat pesisir dan para pemimpin lokal. Tekanan populasi lokal akan
mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem mangrove di sekitarnya. Pendidikan
lingkungan dapat mendorong keterlibatan aktif dan keikutsertaan publik yang
lebih besar. Keduanya merupakan isu penting dalam manajemen dan konservasi
mangrove. Keputusan manajemen menyertakan masukan lokal akan lebih berhasil dan
mendapatkan dukungan politis lebih besar. Dua pendekatan telah digunakan di
restorasi area mangrove yang terdegradasi, yaitu regenerasi buatan dan alami (Septyohadi, 2004)
Dengan upaya restorasi, kemungkinan
pulihnya proses ekologi akan kembali, serta dengan upaya ini, ketahanan yang
menjadi syarat berlangsungnya pemulihan sistem ekosistem hutan mangrove dapat
tercapai. Perlu dilakukan pemulihan kembali hutan mangrove yang telah rusak
agar dapat kembali memberikan fungsinya bagi kesejahteraan manusia khususnya
masyarakat sekitar hutan mangrove serta mendukung dalam kegiatan pembangunan wilayah
pesisir. Penggalakan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang arti penting
keberadaan mangrove dalam kehidupan dan perekonomian masyarakat. Pengikutsertaan
masyarakat dalam upaya pemulihan pantai menjadi kunci keberhasilan pelestarian
ekosistem mangrove (Hartono, 2001).
Menurut Gunawan (2004) restorasi
atau rehabilitasi bisa disarankan karena suatu ekosistem mangrove telah berubah
ke tingkat tertentu sehingga tidak bisa lagi diperbaiki atau memperbaharui diri
sendiri. Dalam kondisi seperti ini, homeostatis ekosistem telah berhenti secara
permanen dan proses normal untuk regenerasi normal atau perbaikan alami
terhalangi oleh berbagai sebab. Maka rehabilitasi yang bertujuan konservasi
memastikan kembalinya seluruh proses ekologis dan keragaman genetik dan menentukan
biomassa serta produksi mangrove. Proses restorasi dan rehabilitasi terhadap
ekosistem mangrove dapat dilakukan dengan cara berikut:
1.
Pemilihan jenis
mangrove untuk restorasi
Untuk
pemilihan spesies mangrove untuk tujuan restorasi, urutan dan zonasi spesies
mangrove berhubungan dengan lapisan bawah dan salinitas yang diamati.
Keseluruhan ditemukan berkolerasi dengan data kandungan karbon untuk variasi
spesies mangrove. Berdasarkan pengamatan- pengamatan, kesesuaian spesies
dipilih untuk restorasi mangrove. Mengetahui kondisi distribusi hutan alam dan
memperhatikan kondisi tempat tumbuhnya, misalnya tepi sungai dan tinggi permukaan
tanah dari permukaan laut dan mengobservasi kondisi di sepanjang tepi batas
penyebarannya.
Mengetahui
ketersediaan benih yang diperlukan, beberapa jenis tumbuhan mangrove seperti pada
jenis Avicennia dan Rhizopora memiliki adaptasi anatomi yang
dikenal dengan istilah secreter dan nonsecreter, sistem perakaran yang khas
serta struktur posisi daun yang khas dalam pengaruhnya terhadap radiasi sinar
matahari dan suhu yang tinggi. Tingkat salinitas yang berbeda berpengaruh
terhadap respon pertumbuhan tinggi maupun pertambuhan jumlah daun anakan Rhizopora mucronata dan Avicennia marina pada umumnya diketahui
bahwa respon pertumbuhan tinggi yang baik diperoleh pada salinitas yang rendah
dan pertambahan jumlah daun untuk jenis Avicenia marina lebih baik pada tingkat
salinitas yang lebih luas.
2.
Teknik pembibitan benih
untuk program restorasi
Bibit
mangrove yang berkualitas merupakan salah satu faktor utama yang mampu
menunjang keberhasilan suatu kegiatan rehabilitasi. Penggunaan bibit berkualitas
tinggi dan siap tanam berpeluang tinggi terhadap pertumbuhannya di lapangan
serta sebaliknya. Penyiapan bibit mangrove sebaiknya menggunakan buah yang
telah masak.
Suksesi
alami akan bergantung pada tersedianya benih dari induk. Penyebaran biji
spesies pionir meliputi kawasan yang luas, dengan bantuan angin, air atau satwa
sebagai agen penyebar. Mereka dengan cepat mengkoloni tanah terbuka. Yang lebih
sulit adalah menggalakan regenerasi spesies klimaks. Mungkin memang ada
regenerasi dari biji yang tersebar secara alami dari blok hutan berdekatan,
tetapi sering diperlukan perbanyakan secara buatan dan penyemaian tanaman.
3.
Persepsi Masyarakat
Sekitar Hutan Mangrove dan Kegiatan Restorasi
Persepsi
di kalangan masyarakat umum dan sebagian besar pegawai pemerintah yang
menganggap bawha hutan mangrove merupakan sumber daya yang kurang berguna yang
hanya cocok sebagai tempat pembuangan sampah atau dikonversi untuk keperluan
lain, kegiatan pembukaan tambak-tambak serta ketidaktahuan akan nilai alamiah
yang diberikan oleh ekosistem mangrove dan ketiadaan perencanaan untuk
pembangunan secara integral menjadi ancaman yang serius bagi ekosistem mangrove.
Partisipasi
kelompok-kelompok tani dalam manajemen pengelolaan sangat menentukan
keberhasilan program restorasi mangrove. Sehingga masyarakat diwajibkan menjaga
kelestarian mangrove dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan manfaat ekologi
seperti perlindungan garis pantai dan terjaganya biodiversitas ikan tangkapan
mereka di laut. Partisipasi masyarakat merupakan instrumen untuk mencapai
tujuan tertentu (a means to an end), dimana tujuan dimaksudkan adalah dikaitkan
dengan keputusan atau tindakan yang lebih baik yang menentukan kesejahteraan
manusia. Interaksi antara manajemen sumberdaya pantai dengan bentuk sistem
sosial secara langsung membangun jaringan antara ekologis dan ketahanan sosial
masyarakat.
4.
Keterlibatan masyarakat
setempat
Masyarakat
setempat sebaiknya dilibatkan dalam pengawasan pemungutan hasil sumberdaya dari
cagar (dalam hal pemungutan hasil seperti berburu dan pengumpulan kayu bakar
tidak bertentangan dengan tujuan pengelolaan). Masyarakat yang tinggal di
sekitar hutan mangrove atau bahkan di dalam hutan mangrove, sudah seharusnya
diperlakukan sebagai stakeholder utama dan pertama dalam pengelolaan hutan.
Tanpa komunikasi yang efektiv proyek konservasi akan relative tidak signifikan .
Kemitraan diantara stakeholders utama (pemerintah dan masyarakat) dalam
pengelolaan wilayah pesisir dan lautan merupakan hal penting yang harus
digalang untuk mencapai pengelolaan
dan pemanfaatan yang
lestari dan berkelanjutan.
PENUTUP
Kesimpulan
Rehabilitasi merupakan suatu
strategi manajemen untuk mencegah degradasi suatu wilayah dan menjadikannya
bermanfaat sedangkan Restorasi merupakan upaya memulihkan
kawasan hutan yang mengalami kerusakan (degraded)
atau terganggu (disturbed) akibat
aktivitas manusia atau gangguan alam. Kerusakan mangrove akibat ulah atau
aktivitas manusia dan alam. Faktor manusia merupakan faktor paling dominan
penyebab keruusakan mangrove yaitu dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan,
penebangan pohon mangrove secara sembarangan, sedangkan faktor alam disebabkan
banjir, tsunami, badai, abrasi dan hama tanaman.
Penanganan kerusakan hutan mangrove
dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan restorasi dan rehabilitasi dimana
kegiatan tersebut dilakukan dengan: pemilihan
jenis mangrove untuk restorasi, teknik pembibitan benih untuk program
restorasi, persepsi masyarakat sekitar hutan mangrove dan kegiatan restorasi
serta keterlibatan masyarakat setempat.
Saran
Sebaiknya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian
ekositem mangrove semakin ditingkatkan sehingga ekosistemnya akan lebih baik
dan akan memberi keuntungan tersendiri bagi masyarakat itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Auliyani,
D., Boedi, H dan Kismartini. 2013.
Pengaruh Rehabilitasi Mangrove Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Pesisir Kabupaten Rembang. ISBN 978-602-17001-1-2 317. Universitas Diponegoro. Semarang.
Basyuni,
M. 2002. Panduan Restorasi Hutan Mangrove Yang Rusak (Degrated). Universitas
Sumatera Utara. Medan.
Gunawan.
2004. Manfaat Hutan Mangrove. Universitas Sumatera Utara. Medan
Hartono,
N. 2001. Program Rehabilitasi Pesisir Deyah Raya Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Melalui Penanaman Mangrove. Concervation International. Jakarta.
Haryanto,
R. 2008. Rehabilitasi Hutan Mangrove Pelestarian Ekosistem Pesisir Pantai dan Pemberdayaan
Masyarakat Pesisir. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Novianty,
R., Sukaya, S dan Donny, J. 2004. Identivfikasi Kerusakan Dan Upaya
Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Di Pantai Utara Kabupaten Subang. Universitas
Padjadjaran. Bandung.
Roy,
R., Robin dan Lewis. 2007. Restorasi Hutan Bakau Berwawasan Ekologi. Mangrove
Action Project - Indonesia Program. Jakarta.
Septyohadi.
2004. Acuan Dasar (Primer) Perhimpunan Ekologi Restorasi Internasional (SER Internasional)
Terhadap Restorasi Ekologis. Universitas Brawijaya. Malang.
Setyawan,
A.D., Kusumo, W dan Purin, C. P. 2004. Ekosistem
Mangrove di Jawa Restorasi. Jurnal Biodiversitas. Vol 5 (2). ISSN 1412-033X.
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Langganan:
Postingan (Atom)